Pada 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah penyakit COVID-19 sebagai pandemi global. Dalam keadaan darurat internasional ini, perkumpulan ahli bedah di amerika serikat mengimbau untuk membatalakan operasi terencana (elektif) di rumah sakit.
Operasi elektif atau operasi terencana adalah operasi yang tidak harus segera dilakukan karena tidak memiliki indikasi ancaman pada nyawa atau kecacatan. Kondisi ini berbeda dengan operasi emergensi, yaitu operasi yang perlu dilakukan secepatnya karena memiliki risiko ancaman kehilangan nyawa atau kecatatan. Joker gaming
Contoh Operasi Terencana dan Operasi Darurat
Perhimpunan ahli bedah di amerika serikat telah memberikan pedoman dan anjuran kepada rumah sakit untuk menunda operasi terencana selama pandemi COVID-19. Pedoman tersebut mencakup bagaimana dokter mengevaluasi situasi medis tertentu dan menunda operasi terencana untuk menekan penularan virus corona.
Agar lebih mudah memahami perbedaan antara operasi terencana dan operasi darurat, di bawah ini akan dijelaskan contoh masing-masing jenis operasi.
Beberapa contoh operasi terencana adalah :
Operasi hernia
Operasi kosmetik
Operasi rekonstruksi
Operasi penggantian sendi
Operasi untuk menurunkan berat badan (bariatrik)
Beberapa contoh operasi darurat adalah :
Operasi pada syok karena perdarahan akut
Operasi pada injury
Operasi sumbatan usus atau kebocoran usus
Operasi caesar emergensi
Beberapa operasi mendesak ( perlu dikerjakan dalam waktu kurang dari 24 jam ) adalah :
Operasi usus buntu
Operasi patah tulang terbuka Slot joker indonesia
Operasi pada kasus infeksi
Mengapa Operasi Terencana Perlu Ditunda Selama Pandemi COVID-19?
Ada banyak pertimbangan untuk menunda operasi terencana selama pandemi COVID-19. Salah satunya adalah kekhawatiran bahwa prosedur operasi terencana dapat berkontribusi pada penyebaran virus corona di rumah sakit.
Alasan lainnya adalah untuk memfokuskan tenaga medis, fasilitas kesehatan, serta perlengkapan dan peralatan medis di rumah sakit, termasuk tempat tidur dan unit perawatan intensif ( ICU ), alat bantu nafs, dan alat pelindung diri ( APD ), pada penanganan infeksi virus corona yang jumlah kasusnya terus bertambah dengna cepat.
Information dari pusat pengendalian dan pencegahan penyakit ( CDC ) juga menjadi pertimbangan untuk menunda operasi terencana. Menurut information CDC, sekita 25% orang yang terjangkit COVID-19 tidak menunjukkan gejala apapun. Artinya, ada potensi pasien yang akan dioperasi atau keluarganya tanpa sadar membawa virus corona ke rumah sakit.
Padaha, ada banyak pasien dirawat di rumah sakit dengan penyakit lain, misalnya penyakit jantung atau kanker, yang memiliki risiko tinggi untuk tertular virus corona dan mengalami komplikasi fatal bila terkena COVID-19. Download aplikasi joker
Selain itu, perlu dipertimbangkan juga bahwa pasien yang menjalani masa pemulihan setelah operasi berisiko tinggi untuk terinfeksi virus corona selama ia dirawat di rumah sakit dan dapat mengalami komplikasi berbahaya akibat infeksi virus ini.
Lamanya penundaan operasi terencana tergantung pada lamanya wabah COVID-19. Semakin cepat penurunan kasus terjadi, semakin cepat pula operasi dapat dilakukan. Sambil menunggu waktu yang tepat, pasien dapat tetap berkonsultasi dengan dokter bedah melalui telepon, video call, atau aplikasi.

Komentar
Posting Komentar